Pelatihan Memanfaatkan Minyak Jelantah Menjadi Biodiesel

Reaktor biodiesel

Cimahi, BBPPMPV BMTI – Saat ini program pelatihan upskilling dan reskilling bagi guru SMK masih berlangsung di BBPPMPV BMTI. Salah satu pelatihan itu adalah Pembuatan dan Pengoperasian Instalasi Reaktor Biodiesel dengan periode pelaksanaan 22 April hingga 18 Mei 2024.

Pelatihan ini memiliki pola kegiatan berupa pembelajaran tatap muka di BBPPMPV BMTI yang setara dengan 120 JP. Periodenya adalah mulai tanggal 23 April hingga 7 Mei 2024. Setelah itu, diadakan uji kompetensi selama 2 hari pada tanggal 8 s.d. 11 Mei 2024. Terakhir, peserta pelatihan akan melakukan magang di industri selama 5 hari mulai tanggal 13 s.d. 17 Mei 2024.

Penanggung jawab program keahlian Teknik Energi Terbarukan BBPPMPV BMTI, Ujang Ahmad Sobandi, S.Pd., M.Si. mengatakan bahwa tujuan diselenggarakannya pelatihan ini adalah untuk meningkatkan kompetensi profesional dalam bidang teknis sesuai dengan standar keahlian yang terbarukan dan relevan dengan tuntutan dunia kerja.

Materi yang disampaikan kepada para peserta pelatihan terdiri dari materi umum berupa kebijakan upskilling dan reskilling serta materi pokok yaitu Project Based Learning. Tim pengajar adalah para widyaiswara dan praktisi dari industri, terdiri dari Camadi, S.Pd., Ujang Ahmad Sobandi, S.Pd., M.Si., Nurhayati, S.Pd., M.Si., Niamul Huda, S.T., M.Pd., Dr. Slamet Mugiono, S.Pd., M.Si., dan Ujang Suherman.

 

Peserta pelatihan biodiesel bersama widyaiswara/pengajar

Salah satu widyaiswara yang ditemui, Niamul Huda mengatakan tujuan spesifik dari pelatihan biodiesel ini adalah agar peserta dapat mempelajari bahan baku biodiesel, mempraktekkan pengoperasian peralatan transesterifikasi, mempraktekkan pengoperasian peralatan pencucian biodiesel, mempraktekkan pengoperasian peralatan pengering biodiesel, melaksanakan pengujian hasil produksi biodiesel, mempraktekkan perakitan instalasi reaktor biodiesel, dan mempraktekkan perawatan instalasi biodiesel untuk memfokuskan pemahaman pada berbagai aspek, seperti pemanfaatan bahan baku biodiesel.

Bahan baku biodiesel mencakup beragam jenis tanaman yang dapat dijadikan dasar untuk produksi biodiesel. Selain itu, bahan baku ini juga dapat berasal dari limbah minyak nabati atau hewani. Pada pelatihan ini, difokuskan pada penggunaan minyak jelantah, yakni minyak bekas dari proses penggorengan, seperti minyak jelantah yang dihasilkan dari restoran atau rumah tangga, yang dapat diolah kembali menjadi biodiesel. Pemanfaatan beragam bahan baku ini memungkinkan diversifikasi sumber daya, sekaligus mendukung efisiensi dalam pengelolaan limbah.

Bagaimana proses pembuatan biodiesel?

Proses pembuatan biodiesel melibatkan beberapa tahapan utama yang meliputi persiapan bahan baku, transesterifikasi, pencucian, dan pengeringan. Berikut adalah penjelasan singkat mengenai setiap tahapan tersebut :

  1. Persiapan bahan baku : Tahap ini mencakup persiapan bahan baku yang akan digunakan, seperti minyak nabati, minyak jelantah, atau lemak hewani. Bahan baku harus disiapkan dengan memastikan penghilangan kontaminan, seperti air dan partikel padat.
  2. Transesterifikasi : Tahap ini merupakan reaksi kimia kunci dalam pembuatan biodiesel di mana minyak nabati atau lemak diubah menjadi ester biodiesel dan gliserol dengan mereaksikan minyak dengan alkohol (biasanya metanol) di bawah pengaruh katalis.
  3. Pencucian : Setelah reaksi transesterifikasi, campuran hasil reaksi perlu dipisahkan. Tahap pencucian dilakukan dengan mencampurkan biodiesel dengan air atau larutan penjernih untuk menghilangkan katalis, sisa alkohol, dan senyawa tidak diinginkan.
  4. Pengeringan : Setelah proses pencucian, biodiesel yang telah dicuci perlu dikeringkan untuk menghilangkan kelebihan air. Pengeringan dapat dilakukan dengan memanaskan biodiesel pada suhu tertentu atau menggunakan metode lain, seperti desikan.
Hasil pengolahan biodiesel dari kiri ke kanan yaitu gliserol, biodiesel, dan minyak jelantah sebagai bahan baku

Setelah melalui tahapan-tahapan tersebut, biodiesel siap untuk digunakan atau didistribusikan. Proses ini merupakan metode umum dalam produksi biodiesel secara besar-besaran, meskipun penyesuaian tertentu dapat dilakukan tergantung pada bahan baku dan teknologi yang tersedia.

Menurut Niamul Huda, dari 5 liter minyak jelantah, dapat diproduksi biodiesel dengan standar B100 sebanyak 4 liter, sementara sisanya menjadi residu yang dapat diolah kembali menjadi sabun. Namun, perlu dicatat bahwa sabun yang dihasilkan mungkin memiliki warna yang lebih gelap dari visualisasi awal.

Ujang Suherman, pengajar yang berasal dari Kementerian Pertanian Badan Standarisasi Instrumen Pertanian Pusat Standarisasi Instrumen Perkebunan, menjelaskan bahwa peralatan yang digunakan dalam pembuatan biodiesel dapat beragam tergantung pada skala produksi dan teknologi yang diterapkan. Berikut adalah beberapa peralatan umum yang sering digunakan dalam proses pembuatan biodiesel :

  1. Reaktor atau tangki reaksi: berfungsi untuk merangsang reaksi transesterifikasi antara minyak nabati atau lemak dengan alkohol dan katalis. Reaktor ini biasanya dilengkapi dengan sistem pengaduk untuk menyatukan bahan baku dengan alkohol dan katalis secara merata.
  2. Pompa: digunakan untuk mengalirkan minyak nabati atau lemak, alkohol, katalis, dan campuran biodiesel ke dalam reaktor atau tangki reaksi.
  3. Penukar panas: berguna untuk memanaskan campuran minyak nabati atau lemak dengan alkohol sebelum dimasukkan ke dalam reaktor. Selain itu, penukar panas juga digunakan untuk memanaskan campuran hasil reaksi sebelum tahap pencucian.
  4. Separator sentrifugal: memisahkan campuran hasil reaksi menjadi fraksi biodiesel dan gliserol. Prinsip gaya sentrifugal digunakan untuk memisahkan kedua fase tersebut.
  5. Tangki pencucian: berperan dalam mencuci biodiesel dengan air atau larutan penjernih lainnya guna menghilangkan katalis, sisa alkohol, dan senyawa lain yang tidak diinginkan.
  6. Peralatan pengeringan: diperlukan untuk menghilangkan kelebihan air dari biodiesel setelah tahap pencucian. Peralatan ini dapat berupa oven atau desikan.
  7. Filter: berfungsi untuk menyaring biodiesel dari partikel-partikel padat atau kotoran lain yang mungkin masih terdapat dalam produk akhir.
  8. Peralatan pengukuran dan pengendalian proses: melibatkan alat ukur suhu, tekanan, dan aliran, serta sistem otomatis untuk memonitor dan mengendalikan kondisi proses secara keseluruhan.
Peserta memegang bahan dan hasil dari biodiesel

Pada skala industri yang lebih besar, peralatan ini umumnya terintegrasi dalam sistem produksi yang kompleks dan otomatis. Namun, untuk skala produksi yang lebih kecil, peralatan tersebut dapat disederhanakan atau digantikan dengan yang lebih mudah diakses. “Hasil dari produksi ini menghasilkan biodesel B100 yang sudah diujicobakan pada mobil Hylux dan secara teknis tidak mengalami kendala berarti yang artinya biodiesel yang dihasilkan dapat digunakan sebagai pengganti bahan bakar mobil diesel setara dengan Pertamina Dex,” kata Ujang Suherman.

Setelah proses produksi selesai, produk biodiesel akan melalui serangkaian pengujian untuk memastikan sesuai dengan standar kualitas biodiesel yang berlaku.

Melalui pelatihan ini,  peserta diwajibkan untuk melaksanakan presentasi hasil proyek dan Rencana Tindak Lanjut (RTL). Mereka mempresentasikan hasil-hasil proyek pelatihan dan menyusun rencana kerja berupa kegiatan diseminasi/implementasi dari pelatihan yang akan dilakukan oleh peserta di tempat tugasnya masing-masing. “Produk RTL bisa berupa desain pembelajaran atau hasil karya yang nanti bisa diunggah di PMM,” tutur Nurhayati, salah seorang widyaiswara yang mengajar.*** (Penulis : Doni TP, Editor : Herna).

 

 

 

Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi
BBPPMPV BMTI Kemendikbudristek

Saluran Informasi dan Pengaduan :
Whatsapp : 08112242326
Telepon : (022) 6652326
Fax : (022) 6654698
Email : bbppmpv.bmti@kemdikbud.go.id
Laman : bbppmpvbmti.kemdikbud.go.id

Sosial Media Resmi:
Twitter : @bmti_kemdikbud
Facebook/Youtube/Linkedin : BBPPMPV BMTI Kemdikbud
Instagram/Tiktok : @bmti.kemdikbud