Guru + Teknologi

 

   Dewasa ini dengan perkembangan jaman yang begitu pesat, kurikulum pun ikut berubah karena kurikulum bersifat dinamis maka guru pun harus bersifat kontinue . Ketika saya mengerjakan pelatihan mandiri guru di platform merdeka mengajar saya mengambil kutipan seorang Bapak Pendidikan dan ini menjadi misi saya sebagai guru non ASN, siapa dia? Yaitu Bapak Pendidikan kita Ki Hajar Dewantara mengatakan bahwa “didiklah anak sesuai dengan jamannya” maka saya selalu mengikuti perkembangan jaman dengan cara mengikuti seminar pendidikan dan kurikulum merdeka yang nantinya akan saya aplikasikan di kelas saya,

   Teknologi adalah sahabat guru sekarang maupun akan mendatang, dimana semua bisa kita mulai dan akhiri dengan teknologi, sewaktu pandemi guru dituntut lebih asyik berhadapan dengan teknologi karena saat itu sekolah dirumah dan dimana saja. Teknologi bukan musuh guru melainkan komputer guru seperti handphone, dimana saja kita dapat melakukan rapat online melalu Google Meet, memantau tugas siswa dengan Google Classroom, membuat ujian pilihan berganda maupun essay dari Google Form dan banyak lagi tentang teknologi yang sangat bermanfaat untuk guru dan siswa. Hanya saja guru-guru kita selalu mendoktrin pola pikirnya yaitu dengan mengatakan “malas berpikir berat”, “tidak ada waktu”, “tidak akan naik pangkat bila terlalu rajin”, dan macam alasan yang membuat saya tidak logis, guru memang harus belajar sepanjang hayatnya.

       Saya sedikit bercerita tentang seorang guru + teknologi yaitu mentor saya dalam belajar, dimana dan kapan saja melalui teknologi handphone saya dan beliau selalu berdiskusi, mentor dalam hal belajar seperti mengolah diri, memberi dukungan, dan menumbuhkan cakap berbicara. Namanya Ibu Diana, Ibu Diana telah menumbuhkan minat belajar saya dengan berkolaborasi dengan teknologi kepada diri saya sebagai guru milineal di era 4.0, perempuan tangguh dan cakap, teknologi bukan lagi hal asing baginya, melainkan teknologi makanan sehari-harinya, dunianya ada di teknologi. Hebatnya lagi ibu itu memiliki tiga putri yang cantik dan manis, Ibu Diana  tidak pernah menghalangi dirinya dengan kehadiran ketiga putrinya untuk belajar dan berkolaborasi dengan teknologi bukan karena anak tetapi kepeduliannya kepada anak bangsa dan teknologi. Saya melihat pada diri Ibu Diana, berbeda dengan guru pada umumnya yang lebih menikmati di zona nyamannya ketimbang berubah untuk dunia yang selalu bersifat dinamis. Akalnya adalah bukti bahwa kita melakukan perubahan dan saya telah melihat itu pada diri Ibu Diana.

        Ketika saya membaca artikel tentang negara Jepang, tumbuh dalam hati ingin belajar dari negara tersebut, negara Jepang lebih aktif dengan IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) sehingga negara itu menjadi maju. Guru juga demikian, harus selalu update tentang teknologi agar dunia pendidikan semakin maju.

 

Ali Azhari Siagian
Guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
SMK NEGERI 2 RANTAU UTARA
KAB. LABUHANBATU

Beri penilaian untuk berita ini!