Merenda Kesabaran

Sering sekali kita mendengar kata “sabar”. Bisa jadi kita pun kerap mengucapkannya untuk diri sendiri atau ketika menasihati orang lain. Apa makna yang terkandung di dalamnya? Lalu, bagaimana mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari? Apakah semudah kita mengucapkannya?

Menurut KBBI, kata “sabar” dimaknai sebagai berikut. Sabar: tahan menghadapi cobaan (tidak lekas marah, tidak lekas putus asa, tidak lekas patah hati); tabah: ia menerima nasibnya dengan –; hidup ini dihadapinya dengan –; 2 tenang; tidak tergesa-gesa; tidak terburu nafsu.

“Cobaan” saya maknai dengan kondisi yang tidak nyaman, apa pun itu. Saya merasakan betapa beratnya bertahan dalam kondisi yang tidak nyaman, tentunya dengan berusaha menahan emosi. Di sinilah kecerdasan emosional diuji. Seberapa hebat kita mampu mengelola emosi, menjaga hati, menjaga lidah agar tidak terpancing untuk meluapkan amarah. Sekali lagi, tidak mudah menjalani semua itu. Selalu ada doa terucap, “Ya Allah, beri aku kekuatan untuk menjalani semua ujian-Mu. Ulurkan tangan-Mu dan berikan petunjuk-Mu. Jangan biarkan hamba menyelesaikan masalah ini sendirian.” Tanpa pertolongan Allah tentu kita tidak punya daya upaya.

Apa tidak boleh marah? Marah itu manusiawi. Karena itu marahlah sesuai porsinya, secukupnya. Luar biasa hebat apabila kita bisa menahan amarah dan menyalurkannya dengan bentuk yang lain. Bercocok tanam misalnya atau berolahraga. Kita bisa mencari kegemaran untuk mengalihkan perhatian sambil terus meminta pertolongan Allah, meminta kepada-Nya untuk diberikan kekuatan.

Lalu, selama kondisi “bertahan” itu apa yang sebaiknya dilakukan? Kata gurunda Ustmif, ada beberapa hal yang bisa dilakukan dalam kondisi bertahan:

  1. Menganalisis masalah yang dihadapi;
  2. Mencari solusi;
  3. Planning;
  4. Action; dan
  5. Tawakal.

Inilah yang mengisi sabar ketika harus bertahan dalam kondisi yang tidak nyaman. Sabar dalam arti aktif, bukan pasif atau “nrimo”

Selanjutnya, dalam situasi apa saja sabar itu perlu diterapkan? Menurut buku Meruntuhkan Hawa Nafsu, Meruntuhkan Rohani (Mazhahiri, 2000) ada tiga, yaitu

  1. sabar dalam menghadapi kesulitan;
  2. sabar dalam melaksanakan ibadah;
  3. sabar dalam menjauhi maksiat.

Memang tidak mudah menjalani semua itu. Karenanya, Allah menjanjikan kasih sayang-Nya yang berlimpah bagi umatnya yang berhasil melalui ujian kesabaran. Rasulullah telah memberikan contoh dan teladannya kepada kita semua. Acap kali beliau dicaci dan dimaki, bahkan diludahi dan dilempari kotoran unta. Apakah setelah menerima perlakuan itu beliau mundur dari tugasnya sebagai rasul? Tidak selangkah pun beliau mundur. Bahkan ketika orang yang meludahinya sakit, Rasulullah menjenguknya hingga orang tersebut malu dan meminta maaf.

Begitu luhur akhlak Rasulullah. Apabila mengaku sebagai umatnya, sudah sepantasnya kita meneladaninya dan menjadikannya panutan dalam kehidupan sehari-hari. (Artikel Pendidikan/Abr)

Beri penilaian untuk berita ini!