Silaturahmi dan Halalbilhalal Idulfitri 1441H

Cimahi, PPPPTK BMTI — Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melaksanakan Silaturahmi dan Halalbihalal Idulfitri 1441H dengan tema “Menjaga Semangat Gotong Royong selama Masa Pandemi” pada hari Jumat, 5 Juni 2020.

Kegiatan yang turut mengundang perwakilan dari 168 satuan kerja di bawah Kemendikbud ini dilaksanakan melalui video conference dengan aplikasi Zoom Meeting. Dalam pembukaannya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh tim yang ada di Kemendikbud. Karena meskipun berada dalam masa pandemi, Kemendikbud masih memiliki produktifitas yang tinggi dan membanggakan serta mampu mengeluarkan gebrakan dan inovasi dalam bidang pendidikan dan kebudayaan. Misalnya dengan mempublikasikan kebijakan penghapusan ujian nasional, melaksanakan pembelajaran jarak jauh dengan melalui berbagai media dan kanal, proram Sekolah Penggerak dan Guru Penggerak, dan lain sebagainya.

Mendikbud juga mengemukakan bahwa sejak masa pandemi ini, seluruh lapisan dalam dunia pendidikan semakin menyadari bahwa penggunaan teknologi dalam pembelajaran tidak akan pernah padam bahkan akan semakin penting. Hal ini seiring dengan visi pendidikan tahun 2035 yaitu ‘Membangun rakyat Indonesia untuk menjadi pembelajar seumur hidup yang unggul, terus berkembang, sejahtera, dan berakhlak mulia dengan menumbuhkan nilai-nilai budaya Indonesia dan Pancasila’.

Di masa depan, salah satu arah pendidikan Indonesia akan menitikberatkan pada transformasi siswa untuk menjadi Pelajar Pancasila dengan ciri-ciri berketuhanan dan berakhlak mulia, mandiri, bernalar kritis, kebhinekaan global, gotong royong, serta kreatif.

Untuk dapat menggapai cita-cita tersebut tentu saja ada beberapa hal yang harus dilakukan. Dimulai dari dibuatnya Sekolah Penggerak di setiap provinsi, kabupaten, atau kota. Fungsi dari Sekolah Penggerak adalah sebagai contoh, model, serta tempat peningkatan kompetensi bagi guru-guru sekolah lain yang ada di sekitarnya. Oleh karena itu, Unit Pelaksana Teknis yang ada di daerah (misalnya LPMP dan PP PAUD-Dikmas) harus berkolaborasi dengan pemerintah daerah untuk terus mengevaluasi dan memonitoring seluruh bantuan yang diberikan oleh pusat dan menelaah sejauh mana pembangunan yang dilaksanakan oleh sekolah.

Sekolah Penggerak saja belum menjadi modal yang cukup untuk bisa mencetak para Pelajar Pancasila. Karena harus ada Guru Penggerak yang membantu dalam program Sekolah Penggerak. Guru Penggerak merupakan program utama yang memiliki turunan program yang saling menunjang satu dengan yang laiinnya, yaitu transformasi kepemimpinan sekolah, transformasi pendidikan profesi guru pra jabatan, pengembangan ekosistem belajar guru di setiap provinsi, penguatan peran komunitas pendidikan yang bergotong royong untuk tujuan yang sama yaitu berupa hasil belajar murid, serta penguatan dalam bidang regulasi, tata kelola, dan koordinasi dengan pemerintah daerah.

Berbicara tentang koordinasi dengan pemerintah daerah, Kemdikbud akan memudahkan proses birokrasi dengan strategi teknologi. Beberapa caranya adalah dengan membangun platform baik untuk pemerintah dan sekolah. Platform pemerintah memiliki fungsi untuk melhat secara langsung pembangunan yang dilaksanakan di sekolah dan daerah, penyerapan anggaran, pelaksanaan kurikulum, serta sebagai portal kerja. Sementara platform sekolah akan memiliki fungsi untuk memfasilitasi para guru dan siswa dalam Kegiatan Belajar dan Mengajar, memfasilitasi kepala sekolah dalam mengelola sekolah, anggaran, dan dana bantuan yang telah diberikan.

Setelah membahas tentang Sekolah Penggerak, maka akan lebih lengkap jika ada penyesuaian kurikulum yang lebih fleksibel, dinamis, dan tetap berkualitas. Kemendikbud sedang merancang kurikulum yang lebih sederhana sehingga mudah dipahami oleh guru dan kepala sekolah, yang memiliki tujuan untuk mengembangkan anak secara holistik dan berorientasi pada kompetensi (yang merupakan hasil belajar anak), serta dikembangkan oleh para ahli baik di bidang pendidikan maupun di dunia industri secara berkelanjutan.

Dunia industri merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari dunia pendidikan terutama jika kaitannya dengan bidang vokasi. Untuk itu, mulai saat ini akan dimaksimalkan link and match antara keduanya. Sekolah harus memperbanyak program studi sesuai dengan kebutuhan yang ada di industri dan industri juga harus menularkan serta mengajarkan para siswa untuk dapat mengembangkan diri dan bersaing di dunia kerja. Pendidikan vokasi baik di sekolah maupun politeknik harus memperbanyak guru dan dosen tamu yang berasal dari industri, program magang industri dilaksanakan minimal 1 semester, penelitian terus menerus dan kolaboratif antara sekolah dan industri, serta penciptaan program wirausaha unggul dari bidang vokasi.

Pendidikan vokasi tidak boleh lagi dipandang sebelah mata karena merupakan sumber daya yang kuat untuk bisa memajukan Indonesia, misalnya dengan menciptakan produk dalam negeri yang berdaya saing. Untuk itu, sosialisasi kepada masyarakat harus terus disebarluaskan agar orang tua serta calon siswa paham bahwa bersekolah di SMK atau Politeknik memiliki insentif, rekognisi, dan manfaat yang besar.

Kegiatan halalbilhalal ini ditutup dengan diskusi antara Mendikbud dan para pegawai Kemendikbud. (VS)

Beri penilaian untuk berita ini!